Ads 468x60px

Sunday, March 24, 2013

Misteri Penyerangan Lapas Cebongan, 17 Pelaku Diyakini Bukan Kopassus

Misteri Penyerangan Lapas Cebongan, 17 Pelaku Diyakini Bukan Kopassus - Suasana mencekam melingkupi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman, Jogjakarta, sepanjang hari kemarin (23/3). Hal itu terjadi setelah lapas di Jalan Bedingin, Mlati, itu diserang sekelompok orang bercadar ala ninja yang menembak mati empat tahanan. Penyerangan terjadi kemarin sekitar pukul 01.30.

Empat tahanan yang dieksekusi di dalam sel tersebut adalah Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan Mambait, Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu, dan Hendrik Angel Sahetapy alias Deki. Mereka adalah tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan Sertu Heru Santoso di Hugo’s CafĂ© pada 19 Maret lalu. Santoso adalah tentara yang pernah berdinas di kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura.

Empat orang itu sebenarnya adalah tahanan Polda DI Jogjakarta. Mereka belum genap 24 jam menghuni lapas setelah dipindahkan dari sel mapolda pada siangnya. Namun, Kapolda DIJ Brigjen Pol Sabar Rahardjo menyangkal dugaan bahwa eksekusi terhadap empat tahanan itu merupakan aksi balas dendam teman-teman Sertu Santoso. Menurut dia, empat tahanan itu tewas ditembak gerombolan orang bercadar. Delapan sipir terluka karena insiden tersebut.

’’Sedikitnya ada 17 orang yang menyerbu lapas,’’ jelasnya kemarin.

Kepala Lapas Sleman B. Sukamto Harto mengungkapkan, aksi para ninja itu berlangsung sangat cepat. Sejak masuk hingga mengeksekusi korban, aksi mereka tak lebih dari lima menit. Aksi itu bermula dari ketukan pintu oleh empat pria yang mengaku dari Polda DIJ. Semua membawa pistol, granat, dan senjata laras panjang.

’’Mereka berpakaian preman,’’ katanya.

Sambil menunjukkan surat berkop Polda DIJ, mereka menyatakan ingin menemui empat tersangka kasus pengeroyokan di Hugo’s. Setelah gerbang dibuka, keempatnya merangsek masuk diikuti belasan temannya. Mereka melumpuhkan para sipir dan merusak CCTV. Sebagian lainnya memaksa petugas lapas menunjukkan sel tempat empat tahanan tersebut.

’’Mereka mengancam meledakkan lapas dengan granat kalau sipir tak mau menunjukkan sel tahanan yang dicari,’’ ungkapnya.

Menurut Sukamto, para sipir yang mencoba mencegah aksi tersebut langsung dihajar hingga babak belur.

’’Mereka (sipir) dipukul,’’ lanjut dia.

Setelah mendapat petunjuk, mereka merangsek ke Blok Anggrek dan mencari sel 5A, tempat orang-orang yang dimaksud berada. Tanpa babibu, mereka memberondong para tahanan dengan senjata api hingga tewas. Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Hadiono Saroso membantah keterlibatan anggota TNI dalam kasus tersebut. Dia juga menyatakan siap bertanggung jawab jika ada anggota TNI yang terlibat.

’’Jangan jadikan kasus ini untuk memojokkan suatu lembaga,’’ ujarnya seusai mengecek Lapas Sleman kemarin.

Terkait dengan senjata api yang digunakan pelaku, Hadiono berdalih tak identik dengan milik TNI maupun Polri. Menurut dia, banyak senjata ilegal yang bisa diperoleh dengan mudah oleh siapa saja. Mengenai pelaku yang ditengarai sebagai pasukan terlatih dari kesatuan tertentu, lagi-lagi dia membantah.

’’Bukan berarti aparat TNI pelakunya. Banyak orang terlatih bukan dari satuan TNI,’’ tegasnya. Hadiono mencontohkan sekelompok orang yang meneror selama ini. ’’Mereka juga terlatih,’’ ujarnya.

Dia juga meluruskan status Sertu Heru Santoso. Prajurit asal Palembang itu, menurut Hadiono, sudah bukan anggota Kopassus. Dia mengakui, Santoso pernah menjadi bagian dari komando pasukan khusus baret merah itu.

’’Tapi, kini tidak lagi,’’ ucapnya.

Hal itu menguatkan opini dia bahwa pelaku penyerangan bukan oknum Kopassus. Kendati begitu, Hadiono menyatakan siap membantu polisi dalam mengungkap kasus tersebut. Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin yang kemarin juga datang ke Jogja memilih bersikap hati-hati. Dia tak mau berspekulasi mengenai pelaku penyerangan.

’’Ini kali pertama dalam sejarah. Sekelompok orang masuk lapas dan melakukan pembunuhan,’’ ujarnya menyesalkan.

Dia mendesak polisi segera menuntaskan kasus tersebut dan menghukum pelaku dengan hukuman setimpal. Dia menilai rangkaian kejahatan di lapas bukan masalah sederhana. Setidaknya, telah terjadi perusakan fasilitas, penganiayaan aparatur, dan pembunuhan keji. Hadiono menambahkan, Rabu (19/3), ada dua anggota Kodam IV/Diponegoro, yakni Serka Heru Santoso dan Sertu Priyono, yang sedang bertugas. Kemudian, salah seorang dibunuh dan seorang lagi dibacok preman.

’’Sejak kejadian itu, kami mencari pelaku dan sudah tertangkap. Kami tegaskan di sini, jangan sampai ada lagi preman yang melukai tentara dan polisi di wilayah Kodam IV/Diponegoro yang meliputi Jateng dan DIJ,’’ tegasnya.

Di Jakarta, Asisten Intelijen Danjen Kopassus Letkol Infanteri Richard Tampubolon juga membantah anggotanya terlibat penyerbuan Lapas Cebongan, Sleman. Menurut dia, berdasar data kesatuan Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, Jateng, tidak ada seorang pun anggota Kopassus yang keluar pada malam kejadian.

’’Saya pastikan, semua senjata disimpan lengkap di dalam markas Kopassus di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Juga, tidak ada anggota yang keluar markas,’’ ujarnya kemarin.

Richard menjelaskan, Kopassus tidak dibenarkan berbuat main hakim sendiri.

’’Kita dukung penyidikan kejadian itu. Yang jelas, Kopassus bergerak berdasar komando atasan. Tidak mungkin ada instruksi seperti itu,’’ tegasnya.

Meski empat orang yang tewas tersebut adalah pelaku pembunuhan mantan anggota Kopassus Sertu Heru Santosa, tidak serta-merta pelakunya adalah anggota Kopassus yang balas dendam. Apalagi, kata Ricard, berdasar informasi yang beredar, empat orang itu adalah preman yang kerap berbuat onar.

’’Mereka banyak musuh. Siapa tahu yang menyerang adalah musuh-musuhnya,’’ katanya.

Siapa mereka? Richard menyatakan belum tahu.

’’Kita tunggu penyidikan oleh yang berwenang saja,’’ ujar perwira menengah senior itu.

Kopassus, lanjut dia, siap dilibatkan dalam pengusutan.

’’Setahu kami, itu ranah kepolisian. Tapi, kalau diminta membantu, tentu kami siap,’’ ungkapnya.

Di tempat terpisah, sumber Jawa Pos menjelaskan, peristiwa itu berkaitan dengan insiden pertikaian antara oknum sebuah kesatuan di Jogjakarta dan kelompok yang sering disebut Geng NTT karena mayoritas berasal dari daerah tersebut.

’’Sertu Santoso itu cuma korban karena diajak temannya dari kesatuan tersebut,’’ jelasnya.

Kelompok NTT yang empat anggotanya ditembak kemarin dikenal sebagai preman baru di Jogja yang memegang bisnis jasa pengamanan di sejumlah kafe, termasuk Hugo’s.

’’Nah, Santoso itu dibunuh karena membela temannya yang dari satuan tersebut, bukan dari Kopassus,’’ katanya.

Tim intelijen Polda DIJ sudah menemukan rangkaian dan dugaan pelaku.

’’Insya Allah segera terungkap. Benang merahnya sudah ketemu,’’ ujarnya.

Mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan Yusril Ihza Mahendra mendorong TNI dan Polri segera melakukan investigasi bersama atas insiden tersebut. Pelaku dan pihak yang bertanggung jawab harus segera diungkap. Menurut dia, pengungkapan kasus tersebut seterang-terangnya sangat penting dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.

’’Rakyat harus dibebaskan dari rasa takut yang merupakan hak konstitusional,’’ ujar Yusril.

Dia menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban atas hal tersebut. Negara harus hadir dalam situasi seperti yang telah terjadi di Sleman.

’’Kalau kehadiran negara sudah tidak dirasakan oleh rakyatnya, setiap orang dapat bertindak brutal terhadap sesama,’’ imbuhnya.

Dia menambahkan, kekerasan oleh aparat keamanan negara dan penegak hukum akhir-akhir ini telah sampai pada titik mengkhawatirkan.

’’Karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali negara harus bertindak tegas, cepat, dan tepat untuk tegakkan keadilan dan kepastian hukum,’’ tegasnya.

Di tempat terpisah, anggota Komisi Pertahanan dan Intelijen DPR Tjahjo Kumolo menilai, terlepas dari apa pun kasusnya, insiden di Sleman tersebut sudah merusak wibawa dan tatanan.

’’Selain itu, kejadian ini mengindikasikan bahwa semua lapas di Indonesia rawan akan kejadian tersebut (seperti di Sleman),’’ katanya.

Selain itu, ujar dia, insiden tersebut telah menunjukkan adanya perlawanan terbuka kepada pemerintah atau kekuasaan. Khususnya, kekuasaan di bawah Kementerian Hukum dan HAM.

’’Karena itu, semua harus terbuka, harus siap dievaluasi. Pasti ada yang salah dalam sebuah sistem, sehingga muncul hal-hal demikian,’’ tegas Sekjen DPP PDIP tersebut. (yog/dem/jpnn/rdl/dyn/fal/c5/n w)

Sumber: http://www.jpnn.com/