Ads 468x60px

Friday, February 15, 2013

Mayat Wanita Dicor Semen, Kasus Pembunuhan Di Ponorogo

Mayat Wanita Dicor Semen, Kasus Pembunuhan Di Ponorogo - Modus pembunuhan kian sadis. Kemarin, Polres Ponorogo menemukan mayat perempuan yang diduga korban pembunuhan, dicor di bawah lantai kamar rumah di Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis.  Perempuan bernama S*** itu diduga sebagai kekasih Krisnanda Mega ***, 26, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMP). Saat ditemukan, mayat perempuan lulusan Fakultas Kependidikan UMP ini masih berpakaian lengkap. Polisi mengambilnya dari lubang berukuran 120x100x80 cm yang bagian atasnya dicor dengan semen.

Penemuan mayat wanita berusia sekitar 23 tahun itu berawal dari penyelidikan polisi atas kematian Mega. Pada Rabu (6/2) sore lalu,polisi menemukan mayat Mega di bawah jembatan Sungai Keyang. Setelah melalui serangkaian penyelidikan, Polres Ponorogo akhirnya menangkap pelaku pembunuhan Mega, yaitu ayah kandungnya sendiri Eko ***, 50, dibantu tetangga bernama Udin, 25. Mega tewas setelah dada kirinya ditusuk senjata tajam. Selain menemukan barang bukti pisau, polisi juga menemukan sepeda motor AE 6313 SD yang diketahui milik S***.

Dari sinilah polisi terus berupaya mengembangkan kasus. Saat menggelar olah tempat kejadian perkara penusukan Mega,yaitu di teras rumah Budi kemarin,polisi juga memeriksa setiap bagian rumah.Polisi melihat bercak darah yang berada di tembok kamar Mega. Polisi yang curiga meminta semua barang di dalam kamar tersebut dikeluarkan. Alhasil, polisi menemukan cor baru di lantai kamar tersebut. Semula lantai cor baru tersebut ditutupi dengan terpal, karpet dan kasur. Tak berlama-lama, polisi melakukan penggalian pada lantai cor tersebut dan akhirnya menemukan mayat S*** ,warga Tegalombo, Kecamatan Kauman, Ponorogo.

”Kondisinya tertelungkup tapi pakaiannya masih utuh,” ujar Wakapolres Ponorogo Kompol Trisaksono Puspoaji, kemarin. Sementara itu, Kapolres Ponorogo AKBP Yuda Gustawan menyatakan, memastikan Mega, dibunuh ayahnya sendiri. Kesimpulan sementara ini diambil dari petunjuk di lokasi penemuan yang tidak memperlihatkan darah yang tercecer, melainkan terkumpul di sekitar tubuh Mega. Pisau untuk membunuh Mega telah diamankan. 
”Korban meninggal akibat ditusuk pisau oleh bapaknya sendiri saat sedang tidur di teras depan rumah, sekitar pukul 03.00 WIB, Rabu (6/2),” kata AKBP Yuda. Kepada polisi Budi mengaku kesal karena Mega sering menjual perabotan rumah untuk keperluan yang tidak jelas. Saat ditanya wartawan, Budi pun mengakui terus terang perbuatannya.” Daripada kedahuluan dibunuh, ya saya dahului (membunuh),”kata Budi. 

Dari olah TKP dan pemeriksaan saksi, AKBP Yuda menyatakan peristiwa pembunuhan itu berlangsung secara tiba-tiba. Saat korban sedang tidur di kursi teras dengan posisi telentang, tersangka Budi yang menghunus sebilah pisau langsung menghujam dada kiri korban.

”Saat itu korban tidak langsung meninggal. Namuh anehnya, Udin yang saat itu berada disamping korban bukanya melerai, justru malah membantu Budi. Tersangka Udin bahkan ikut menusuk dada korban,”paparnnya. 

Setelah Mega terlihat tidak bernyawa, Budi dan Udin membawa mayat Mega ke Sungai Keyang yang jaraknya tak jauh dari rumah Budi.

”Jenazah korban diletakkan di pinggir sungai, dengan leher dijerat seutas pelepah pisang agar terlihat korban meninggal karena bunuh diri,”ujar dia. Sejauh ini polisi belum bisa menyimpulkan keterkaitan kedua pembunuhan tersebut, Meski telah memastikan Mega dibunuh ayah kandungnya sendiri, polisi belum mengetahui siapa yang melakukan pembunuhan terhadap Suprihatin dan apa pula motifnya. 

Banyak spekulasi yang berkembang mengenai dua rentetan pembunuhan ini. Budi punya motif membunuh Suprihatin untuk menutupi pem-bunuhan Mega. Namun sebagai orang dekat, Mega juga punya motif membunuh pacarnya itu.

“Kasus ini masih kami kembangkan lagi,”kata AKBP Yuda.

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/