Ads 468x60px

Monday, February 11, 2013

Kasus Pembunuhan Anak Dibunuh Ayah Di Jetis, Ponorogo

Kasus Pembunuhan Anak Dibunuh Ayah Di Jetis, Ponorogo - Setelah dua hari menyelidiki, akhirnya penyidik Polres Ponorogo berhasil mengungkap kasus pembunuhan sadis terhadap Kris*** (27), warga Dusun Taman Asri, Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, dengan menangkap dua orang pembunuhnya. Yang mencengangkan, otak sekaligus eksekutor pembunuhan mahasiswa Univeristas Muhammadiyah (Unmuh) Ponorogo, jurusan Teknik Informatika (TI) semester IV, adalah ayah kandungnya, Eko *** (50) dan Udin (28) tetangga korban.

Kepada polisi, Eko yang juga mantan Kepala Desa Karanggebang ini mengaku dirinya tega membunuh anak sulungnya hasil pernikahannya dengan Lil*** (48) karena jengkel dan dirinya juga pernah diancam akan dibunuh.

"Saya jengkel karena dia membantah jika dinasehati. Dia juga sering menjual barang di rumah, sering membawa cewek ke rumah. Dia sering mengancam membunuh saya. Saat itulah, timbul niat saya membunuhnya daripada saya dibunuh. Saya hanya menusuk 2 kali," katanya.

Eko mengaku, pembunuhan itu ditemani Udin, teman anaknya itu. Saat itu, Senin (4/2/2013) malam,  korban tertidur di pos kamling bersama Udin. Tersangka lalu mengambil sangkur di rumahnya, tanpa banyak bicara ia lalu menusuk dada kiri anaknya dengan sangkur hingga dua kali. Saat korban ditusuk, Udin bertindak memegang kaki korban sehingga tidak bisa bergerak. "Setelah saya menusuk, sangkur saya taruh di lantai. Spontan Udin mengambinya lalu ikut menusuk di tempat yang sama dua kali," imbuhnya dibenarkan Udin.

Udin mengaku ikut membunuh korban, karena merasa sakit hati sering dihina  anak orang tidak mampu.  "Saya sudah lama jengkel. Meski saya teman korban, tetapi saya sering dihina sabagai anak orang tak punya. Saya menusuknya bukan perintah Pak Eko, tetapi memang niat dari hati setelah tahu bapaknya saja tega membunuh anaknya," imbuhnya.

Kapolres Ponorogo AKBP Yuda Gustawan menegaskan, selain mengamankan kedua pembunuh pihaknya juga mengamankan sebilah sangkur yang dipakai membunuh, satu buah gelas untuk minum kopi, seikat kulit batang pisang kering, sebuah baju kotak-kotak milik korban, kaos warna kuning yang dipakai korban, gelang, kalung milik korban, serta tiga buah ponsel.

"Kedua tersangka kami jerat pasal 338 KUHP atau Pasal 340 KUHP. Jika tidak direncanakan akan dijerat dengan pasal 338 dengan ancaman 15 tahun, tetapi jika direncanakan akan dijerat pasal 340 KUHP, dengan ancaman seumur hidup atau hukuman mati," tandasnya.

Sumber : http://surabaya.tribunnews.com