Ads 468x60px

Friday, December 21, 2012

Sejarah Fir'aun Ramses II, Raja Kejam Dari Mesir Kuno


Sejarah Fir'aun Ramses II, Raja Kejam Dari Mesir Kuno - Kisah sekitar kekejaman dan kedigdayaan Fir’aun betul-betul sudah sangat membumi. Sehingga, setiap orang yang mendengarkan nama itu saja, otomatis memorinya langsung membayangkan, kekejaman demi kekejaman yang telah ia lakukan terhadap rakyatnya, dimana seharusnya ia lindungi. Semua itu ia lakukan, demi mempertahankan kekuasaan tanpa batas, sekaligus menjadi sembahan abadi bagi rakyatnya.

Fir’aun atau Pharaoh, adalah julukan bagi raja-raja Mesir kuno. Yang memerintah sesuai garis keturunan yang mereka miliki. Dari sekian banyaknya fir’aun Mesir yang telah berkuasa, paling menonjol adalah fir’aun Ramses II, yang berkuasa pada abad ke 14 SM. Pada masa pemerintahan fir’aun Ramses II inilah, kejayaan keluarga dinasti fir’aun dicapai. Ramses II, adalah fir’aun yang paling lama memerintah dalam sejarah Mesir kuno, yaitu +/- 60an tahun. Ia juga dikenal sebagai fir’aun penindas dan sangat kejam terhadap kaum minoritas bani Israil.

Bersamaan dengan masa kejayaan fir’aun Ramses II ini, Allah SWT telah mengutus Musa a.s. untuk menyelamatkan kaum bani Israil, dari rongrongan serta kekejaman di luar batas kemanusiaan, terhadap bani Israil sebagai kaum minoritas saat itu. Setelah tercapainya deal antara Musa a.s. dengan Ramses II, untuk membawa kaum bani Israil keluar dari negeri Mesir, menuju negeri Kanaan (Palestina sekarang), maka seketika berkumpullah ribuan kaum bani Israil, yang sudah siap mengikuti Musa a.s. untuk meuju negeri harapan.

Selang beberapa hari kemudian, setelah fir’aun mendapat masukan dari para penasehatnya. Ia berbalik hati, bahkan ingin menumpas Musa a.s. bersama semua pengikutnya dari bani Israil. Karena ia meyakini, bahwa suatu saat Musa a.s. akan kembali bersama kaumnya ke negeri Mesir serta akan menghancurkan kekuasaannya. Tanpa pikir panjang, fir’aun pun langsung mempersiapkan semua kekuatan militernya untuk mengejar mereka. Dimana saat itu, Musa a.s. beserta pengikutnya sudah hampir mendekati tepi pantai (wilayah Nuweiba, Sinai Mesir saat ini), dan akan menyeberangi teluk Aqaba menuju negeri Midian di daratan Hijaz.

Sejarah Fir'aun Ramses II, Raja Kejam Dari Mesir Kuno

Setelah Musa a.s. dan pengikutnya mengetahui, bahwa bala tentara fir’aun sedang mengejar untuk membinasakan mereka, maka kucar-kacirlah mereka para kaum bani Israil. Serta meminta Musa a.s. untuk mencarikan jalan keluar untuk bisa selamat dari pengejaran fir’aun tersebut. Disaat itulah Muasa a.s. menerima wahyu dari Allah SWT, untuk memukulkan tongkatnya ke air laut merah itu. Seketika, laut pun terbelah dua, seakan memberikan jalan untuk mereka. Tanpa pikir panjang, Musa a.s. dan pengikutnya langsung menyeberangi laut tersebut, hingga sampai dengan selamat ke tepi pantai bagian timur daratan Hijaz. Seketika, bani Israil melihat dengan cemas, bahwa bala tentara fir’aun juga sedang melakukan penyeberangan melewati jalan mereka tadi. Namun, berselang beberapa saat kemudian, air laut pun kembali menyatu, serta membinasakan semua bala tentara fir’aun, termasuk fir’aun itu sendiri.

Selang beberapa waktu kemudian, bala tentara fir’aun bantuan mendapatkan jasad fir’aun beserta tentaranya mengapung di sepanjang pantai laut merah itu. Lalu, jasad tersebut dibawa pulang ke kota Qantir sebagai pusat kerajaan pada waktu itu. Sebagai tradisi fir’aun pada waktu itu, semua raja-raja fir’aun akan diabadikan dengan cara membalsem jasadnya, sehingga bertahan hingga beberapa abad kemudian. Setelah dibalsem, baru kemudian disemayamkan bersama barang-barang kesayangannya dalam sebuah peti mewah besar, lalu ditanam di wilayah Lembah para Raja (Valley of the Kings) Luxor.

Sejarah Fir'aun Ramses II, Raja Kejam Dari Mesir Kuno

Misteri mummi fir’aun sang pengejar Musa itupun terkuak. Setelah beberapa ahli mengsinkronisasikan, masa berkuasanya fir’aun Ramses II, dengan periode pengutusan Musa a.s. kepada kaum bani Israil, yaitu pada abad 14 SM. Disamping itu, juga terdapat keanehan dalam peti mati sang fir’aun. Yaitu, kereta perang yang bentuknya tidak sempurna, begitu juga beberapa aksesoris lainnya. Yang secara kebetulan, sangat berbeda dengan barang bawaan peti mati fir’aun lainnya. Semuanya utuh dan terawat rapi.

Hal ini, juga diperkuat dengan temuan terakhir arkeolog dunia Ron Wyatt. Disekitar daerah penyeberangan, ia telah menemukan roda kereta perang, as roda kereta dan beberapa rangka manusia. Sehingga semakin memperkuat analisa tersebut. Dimana, semua benda-benda peninggalan itu, dapat dilihat langsung di Museum El Tahrir Mesir.

Bagi seorang muslim, peristiwa tersebut sudah sangat jelas dikisahkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an. Yang inti tujuannya adalah, Allah mengapungkan serta mengabadikan jasad fir’aun beserta bala tentaranya, untuk dijadikan contoh bagi orang-orang yang ingkar serta sombong akan azab Allah yang nyata. Kisah-kisah tersebut dapat dibaca dalam Al Qur’an pada ayat dan surat berikut:  surat “Thaha” ayat 77 hingga 79 ; surat “Asy-Syua’ra” ayat 60 hingga 68 ; surat “Yunus” ayat 90 hingga 92.